Evolusi Gaya Bermain Liverpool di Anfield

Evolusi-Gaya-Bermain-Liverpool-di-Anfield-sirajaqq-rajaqq

Yang ViralEvolusi Gaya Bermain Liverpool di Anfield – Gaya permainan heavy-metal Liverpool yang diusung oleh Jurgen Klopp kini telah berevolusi. Evolusi gaya bermain Liverpool tampak nyata dalam epic comeback kontra Barcelona di babak semi-final Liga Champions musim ini.

Masihkah anda ingat dengan istilah heavy metal yang dipakai Jurgen Klopp saat mendeskripsikan gaya bermainnya di Borussia Dortmund?

Deskripsi itu tampak sesuai saat musim perdana Klopp menukangi Liverpool. Kemenangan 5-4 atas Norwich city di Liga Primer Inggris dan kontra Dortmund di Liga Europa menjadi bukti nyata. Gaya bermain yang keras, penuh pressing dan tak gentar pada resiko selalu tampak pada periode tersebut.

Namun pada comeback epic kontra Barcelona di semi-final Liga Champions, gaya bermain Liverpool tampak berevolusi. Tak ada lagi pressing intens sepanjang laga. Tak ada lagi pergerakan penuh risiko yang membiarkan lini belakang menganga. Tak ada lagi momen kehabisan bensin di akhir laga, atau bahkan akhir musim.

Unsur ‘keras’ dalam permainan The Reds memang masih terasa, namun tempo permainan mereka sedikit melambat. Perubahan ini pun memungkinkan Fabinho dkk untuk bermain lebih akurat, lebih tenang, dan berpikir lebih jernih.

Tak pelak, atmosfer yang lebih dominan justru tersaji di lapangan, menghasilkan mahakarya post-metal terbaik musim ini: kemenangan 4-0 atas juara La Liga Spanyol.

Evolusi Gaya Bermain Liverpool: Dominasi Semua Lini

Seumpama band musik, Sadio Mane mungkin bakal menyandang peran lead vocal malam ini. Absennya Mohamed Salah dan Roberto Firmino membuat beban bertumpuk di pundaknya, namun bintang Senegal itu tampil di atas rata-rata. Dia seperti meminjam daya kerja Firmino dan dribel tajam Salah sehingga membuat Gerard Pique dkk kalang kabut.

Baca juga: Satu Milimeter Saja Menjadi Penentu Juara

sadio-mane-fc-liverpool-fc-barcelona-champions-league-07052019-sirajaqq-rajaqq

Meski ia tidak cetak gol, Mane membuka jalan untuk semua gol Liverpool malam itu. Dia mengatur tempo pengerangan dan kerap kali menciptakan ruang tembak untuk rekan-rekannya. Meskipun dilanggar berkali-kali, dia tetap konsisten mengancam dan membawa The Reds ke final Liga Champions.

Peran yang tidak kalah penting adalah cameo Gini Wijnaldum. Meskipun ia baru masuk pada babak kedua untuk menggantikan Andy Robertson, penampilannya sangat krusial untuk Liverpool. Aksi brutal, kokoh, dan ganas ditampilkan oleh bintang Belanda tersebut. Dia memang menggantikan James Milner di lini tengah, namun pergerakannya sudah cukup untuk mengacaukan lini tengah Blaugrana.

Setelah hampir semusim dimainkan sebagai penjaga keseimbangan, Gini kembali diberikan peran ofensif. Hasilnya pun luar biasa, seiring dirinya mencetak sepasang gol dan membuat Sergio Busquets kehabisan kata-kata. Tentu saja gedor ganas Gini mendapat sokongan terpercaya dari Fabinho dan Jordan Henderson yang disiplin membantu pertahanan.

Peran Krusial Alexander-Arnold

Peran Trent Alexander-Arnold pun tidak kalah besar dalam laga krusial ini. Wonderkid Inggris itu tampil gemilang sepanjang laga dan mengirimkan umpan silang yang mematikan. Assist yang dirinya berikan pada Divock Origi yang menghasilkan gol keempat pun layak mendapatkan sanjungan.

georginio-wijnaldum-liverpool-sirajaqq-rajaqq

Apa yang diinginkan Liverpool dengan memainkan peran-peran tersebut? Tentu saja adalah bagaimana The Reds berani mengendalikan bola.

Jika pada periode sebelumnya Klopp lebih sering mengandalkan pressing agresif dan serangan balik cepat, dia kini justru mengokohkan dominasi gaya gedor. Banyak opsi serangan dari berbagai lini ini memungkinkan Liverpool untuk tampil keras tanpa mengambil resiko besar di belakang.

Baca juga: Misi Mustahil Liverpool Tanpa Mohamed Salah

Mental Baja Liverpool di Balik Post-Metal

Evolusi gaya bermain Liverpool menjadi post-metal adalah satu hal yang luar biasa. Namun, pertumbuhan mental pemain Liverpool tetap tidak boleh diabaikan. Kapan terakhir kali The Reds bisa tetap percaya diri setelah kalah 3-0? Mungkin itu terjadi saat Steven Gerrard masih mengenakan ban kapten di Istanbul, Turki. Klopp menciptakan keajaiban ketika The Reds tidak lagi dijagokan dan mereka harus menghadapi pemain terbaik dunia.

Jose Mourinho mendeskripsikannya dengan sangat baik lewat beIN Sport: “Saya tidak memperkirakan comeback ini terjadi. Jika saya bilang mungkin, Anfield adalah salah satu tempat untuk mewujudkannya. Namun bagi saya, ada satu nama: Jurgen.”

evolusi-gaya-bermain-liverpool-premier-league-2019-sirajaqq-rajaqq

“Kemenangan ini bukan tentang taktik, bukan tentang filosofi. Ini tentang hati dan jiwa dan empati fantastis yang telah ia ciptakan dengan kelompok pemain itu.

“Mereka nyaris mengakhiri musim yang fantastis tanpa gelar apa pun dan sekarang mereka selangkah lagi untuk menjadi juara Eropa. Ini tentang dia. Ini adalah cerminan kepribadiannya, pantang menyerah, semangat juangnya, sehingga setiap pemain memberikan segalanya. Segala sesuatu hari ini adalah tentang mentalitas Jurgen.”

Pelajaran Membuat Gaya Bermain Liverpool Berevolusi

Klopp belajar dari sejarah tentang gegenpressing atau sepakbola heavy-metalyang membuatnya selalu kehabisan bensin di putaran akhir kompetisi. Musim ini, sosok Liverpool yang lebih kalem – walau masih keras – tampak di lapangan dan membawa mereka ke persaingan gelar hingga hari terakhir. Mereka hanya tertinggal satu poin dari Manchester City di pekan terakhir dan kini memastikan satu tiket ke final Madrid 2019.

Lebih dari yang terlihat di lapangan, satu aspek yang selalu dipupuk oleh Klopp adalah mentalitas. Gaya main boleh terus berubah, seperti terlihat dalam post-metal Liverpool, namun mental juara harus selalu dipupuk. Banyak orang menyaksikan hal itu malam ini, bahkan Mourinho mengakuinya. Apa yang menjadi perbedaan adalah mentalitas, benih keyakinan sudah tumbuh di Anfield dan itulah yang mengendalikan atmosfer kemenangan epik.

Performa di Anfield memang selalu top sejak dipegang Klopp, namun tantangan terakhir Liverpool kini adalah mengubah Madrid menjadi panggung dominasi pada 1 Juni.

Sumber: Goal Indonesia

Follow dan Like sosmed kita dong

Tinggalkan Balasan