Fakta-Fakta Video Viral Habib Umar Assegaf Cekcok dengan Petugas PSBB

Fakta-Fakta-Video-Viral-Habib-Umar-Assegaf-Cekcok-dengan-Petugas-PSBB

Liputan6.com, Jakarta – Fakta-Fakta Video Viral Habib Umar Assegaf Cekcok dengan Petugas PSBB. – Fakta-Fakta Video Viral Habib Umar Assegaf. – Nama Habib Umar Assegaf menjadi perbincangan. Videonya viral di media sosial terkait adu mulut dia dengan salah seorang petugas jaga di pos cek point Exit Tol Satelit.

Kejadian yang dialami pemilik Majelis Roudhotus Salaf Bangil. Habib Umar Assegaf itu terjadi pada Rabu, 20 Mei 2020 sekitar pukul 16.45 WIB.

Dalam video yang berdurasi 1 menit 23 detik tersebut terlihat.  Antara Habib Umar dan salah seorang petugas cekcok dan saling dorong.

“Sekira pukul 16.45 wib, anggota Satlantas Polrestabes Surabaya.  Menghentikan kendaraan Toyota Camry dengan Nopol N 1 B dari Arah Malang. Kemudian dilakukan pemeriksaan oleh petugas yang didapati bahwa pengemudi tidak menggunakan masker dan penumpang melebihi ketentuan PSBB.” Kata Trunoyudo saat dikonfirmasi Merdeka.com, Kamis, 21 Mei 2020.

Baca juga : Denda Rp 1 Juta Hingga Mobil Diderek Bagi Pengendara yang Langgar PSBB

Meski begitu, pihak Polda Jawa Timur (Jatim) telah melakukan mediasi antara pihak Habib Umar Abdullah Assegaf Bangil dengan petugas gabungan PSBB yang bertugas.

Viral di media sosial terkaitadu mulut yang dilakukan oleh pemilik. Majelis Roudhotus Salaf Bangil, Habib Umar Abdullah Assegaf terhadap salah seorang petugas jaga di pos cek point Exit Tol Satelit.

Kejadian tersebut diketahui terjadi pada Rabu, 20 Mei 2020 sekitar pukul 16.45 WIB.

Dalam video yang berdurasi 1 menit 23 detik tersebut terlihat.  Antara Habib Umar dan salah seorang petugas cekcok dan saling dorong.

Habib Umar terlihat menggunakan kain sorban saat memukul petugas tersebut yang kemudian dibalas dengan tangan kosong serta ditendang oleh petugas.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, kejadian bermula saat anggota Satlantas Polrestabes Surabaya melaksanakan pemeriksaan kendaraan yang akan masuk ke Kota Surabaya di pos cek point tersebut.

“Sekira pukul 16.45 wib, anggota Satlantas Polrestabes Surabaya menghentikan kendaraan Toyota Camry dengan Nopol N 1 B dari Arah Malang. Kemudian dilakukan pemeriksaan oleh petugas yang didapati bahwa pengemudi tidak menggunakan masker dan penumpang melebihi ketentuan PSBB,” kata Trunoyudo saat dikonfirmasi Merdeka.com, Kamis, 21 Mei 2020.

Saat itu, petugas pun langsung meminta kepada pengemudi yang menggunakan mobil merk Toyota Camry warna hitam dengan nomor polisi N 1 B tersebut untuk putar balik, kembali ke daerah asalnya.

Baca juga : Bandara Soetta Padat Penumpang saat PSBB Dilonggarkan Bikin Heboh

“Namun dari dalam mobil terdengar suara dari penumpang yang melarang pengemudi untuk putar balik dan memaksa untuk melanjutkan perjalanan ke arah masuk kota Surabaya,” ujarnya.

Tak lama kemudian, Habib Umar pun turun dari kendaraan yang ia tumpangi tersebut. Saat itu, ia diduga melontarkan kata-kata yang tidak sopan kepada para petugas jaga.

“Seorang penumpang pria turun dari mobil dan melakukan ujaran kebencian dengan mengeluarkan kata-kata tidak sopan kepada petugas gabungan yang sedang melaksanakan pengamanan di pos cek point Exit Tol Satelit,” ungkapnya.

“Tidak hanya itu, penumpang pria sempat melakukan tindakan melawan hukum terhadap petugas yang sedang melaksanakan tugas,” ucapnya.

Trunoyudo menjelaskan, alasan petugas meminta putar balik terhadap pengemudi. Lantaran mobil tersebut bukan berasal dari Kota Surabaya.

“Pertama yang bersangkutan Plat Diluar L dan W maka dilakukan pengecekan juga maksud dan tujuannya kedatangan di Kota Surabaya. Kedua Supir tidak menggunakan masker, ketiga kapasitas melebihi batas 4 orang,” jelas dia.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengaku, pihaknya telah bermediasi dengan pihak Habib Umar Abdullah Assegaf Bangil dengan petugas gabungan PSBB yang bertugas dan ada adu fisik di check point Exit Tol Satelit Surabaya, Jawa Timur, pada Rabu 20 Mei 2020.

“Setelah adanya video yang viral tersebut, ada beberapa pihak ketiga yang memanfaatkan situasi ini untuk memperkeruh, mendompleng, membonceng, kejadian-kejadian ini, dan itu tidak ada kaitan dengan di Surabaya atau pun dengan kedua belah pihak,” tutur dia, Jumat (22/5/2020).

“Kepada Habib Umar Abdullah Assegaf, sudah kita lakukan komunikasi dan koordinasi dengan Kapolres Pasuruan Kabupaten. Kemudian juga dengan yang Satpol PP Kota, kita juga melakukan pendekatan melalui Polrestabes Surabaya. Maka dalam hal ini kita ambil bagaimana hikmahnya,” ia menambahkan.

Baca juga : Fakta-fakta di Balik Wajah Jakarta Selama Sepekan PSBB

Trunoyudo menyampaikan, berdasarkan hasil koordinasi, diperoleh informasi kedua belah pihak sama-sama memaafkan.

“Sebenarnya keduabelah pihak sudah menyatakan untuk saling memaafkan, harapannya juga tanpa syarat. Artinya, semua yang terjadi ini tujuannya kan untuk menyelamatkan masyarakat dan juga keluarganya dan masyarakat yang lainnya (dari penularan virus corona),” ujar dia.

Menurut Trunoyudo, apa yang terjadi di lapangan saat itu ialah kesalahpahaman antara petugas PSBB dengan Habib Umar Assegaf. Semua hal itu terkait upaya mencegah penularan Covid-19.

Jika melihat video yang viral, anggota Kepolisian Lalu Lintas Polrestabes Surabaya sudah coba menengahi kendati bersitegang tetap terjadi. Tentu saja kejadian itu akan menjadi bahan evaluasi pada pelaksanaan PSBB ke depan.

Terkait tindaklanjut secara hukum, Trunoyudo mengatakan, ada laporan atau tidak ada laporan Kepolisian sudah pasti melakukan pendalaman. Namun, tentu saja pendekatan persuasif lebih diutamakan.

“Dengan adanya bulan Ramadan, bulan berkah ini, saling memaafkan, dan keduabelah pihak juga sudah menyatakan saling memaafkan,” ujar dia.

Di luar itu, Kepolisian mengamati adanya pihak-pihak tertentu yang coba memboncengi peristiwa heboh tersebut dan dimanfaatkan untuk memperkeruh suasana.

“Kita akan melakukan patroli siber, kita optimalkan melalui Direktorat Intelkam Polda Jawa Timur dan juga humas. Kita akan melihat konten-konten yang bersifat ujaran kebencian, SARA, kemudian berita bohong, (karena) ini sudah mulai banyak. Tentu ini menjadi bagian penyelidikan kita,” ucap Trunoyudo.

Sumber : Liputan6

Follow dan Like sosmed kita dong

Tinggalkan Balasan