Quique Setien, Pelatih Baru Barcelona Yang Terinspirasi Johan Cruyff

Quique-Setien-Pelatih-Baru-Barcelona-Yang-Terinspirasi-Johan-Cruyff-sirajaqq-rajaqq

Yang Viral – Quique Setien, Pelatih Baru Barcelona Yang Terinspirasi Johan Cruyff – Eks juru taktik Real Betis Quique Setien resmi ditunjuk sebagai manajer baru Barcelona setelah Ernesto Valverde dibebastugaskan.

Setelah Xavi dan Ronald Koeman menolak tawaran, jajaran direksi Barcelona memilih Setien sebagai pelatih kepala dengan kontrak hingga musim panas 2022.

Posisi Valverde di Camp Nou memang sudah lama dipertanyakan. Tekanan itu semakin hebat setelah Azulgrana disingkirkan Atletico Madrid di Piala Super Spanyol.

Sebelumnya diyakini Barca menginginkan Xavi sebagai manajer permanen menggantikan Valverde. Namun bos Al-Sadd tersebut menegaskan kemungkinan kembali ke Catalan hanya bisa terwujud pada musim panas.

Dengan kontrak Setien yang akan habis di akhir musim 2021/22, maka kembalinya Xavi ke Camp Nou dipastikan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Mantan arsitek Verdiblancos ini dipilih mengalahkan opsi lainnya yaitu pelatih Barcelona B dan mantan pemain Francisco Garcia Pimienta.

Goal punya semua yang perlu Anda ketahui tentang mantan gelandang ini, sejarah kepelatihannya dan lain-lain.


Baca juga: Liverpool Sekarang Over Power, Dulu Hanya Punya Satu Senjata


Siapakah Quique Setien?

Setien adalah gelandang berbakat untuk Racing Santander, klub kampung halamannya, di mana dia menghabiskan delapan tahun dengan menghasilkan catatan 205 penampilan dan 43 gol.

Dia kemudian memperkuat Atletico Madrid dan Longrones sebelum menggantungkan sepatu bersama Levante.

Racing kembali jadi titik awal bagi sosok berusia 61 ini memulai karier kepelatihan pada 2000, kemudian ke Poli Ejido dan Logrones sebelum menangani timnas Guinea Khatulistiwa. Dia juga pernah membesut Lugo selama lima tahun dan memimpin tim meraih promosi ke Segunda.

Setien kemudian menangani Las Palmas dan berhasil menghindarkan mereka dari ancaman degradasi pada musim pertamanya sebelum membawa tim mengakhiri kompetisi di peringkat 11.

Musim kedua sang pelatih di Las Palmas membuka jalan menuju kualifikasi Eropa tetapi mereka gagal, meski demikian Setien sudah mengukuhkan diri sebagai pelatih yang mengusung gaya baru melibatkan sentuhan dan penguasaan bola (terdengar familiar?).

Catatan impresif di kepulauan Canary telah menarik perhatian Real Betis yang kemudian menggaetnya sebagai manajer permenan pada 2017. Pada musim pertamanya di Benito Villamarin, Setien berhasil membawa Betis kembali ke Eropa, menang 5-3 atas Sevilla di El Gran Derbi, membawa tim ke peringkat enam klasemen dan mengamankan tiket kualifikasi Liga Europa.

Bersama Setien, kita juga melihat kegemilangan sederet pemain seperti Fabian Ruiz dan Junior Firpo hingga berbuah transfer ke Napoli dan Barcelona.

Musim kedua Setien bersama Betis terlihat menjanjikan, mereka lolos ke semi-final Copa del Rey namun gagal mengalahkan alencia. Betis kemudian tersingkir di Liga Europa di tangan Rennes hingga kehilangan momentum di LaLiga. Dari sebuah tim yang bertarung memperebutkan tiket ke Liga Champions, mereka mengakhiri kompetisi di papan tengah.

Penurunan pencapaian tersebut memaksanya meninggalkan Betis meski masih menyisakan satu tahun kontrak.

Gaya Bermain Quique Setien

Sepakbola menyerang yang diusung Setien seperti sebuah refleksi pada aksinya dahulu sebagai pemain. Filosofi penguasaan bola adalah salah-satu ciri khas tim besutannya. Setien lebih gemar mengusung formasi 4-2-3-1 dan menekankan pada serangan.

Tidak mengherankan, strategi favoritnya ini telah membuatnya dibandingkan dengan legenda Barcelona Johan Cruyff, sosok yang begitu dikagumi oleh sang pelatih.


Baca juga: Chelsea Rugi £26 Juta Karena Pecat Antonie Conte


“Saya masih ingat ketika pasukan Barcelona bermain dipimpin oleh Johan Cruyff,” buka Setien pada The Coaches Voice.

“Ketika menghadapi mereka, Anda akan menghabiskan waktu mengejar bola. Saya berkata pada diri sendiri: ‘Ini yang saya suka. Saya ingin berada di tim ini, dan mengetahui mengapa itu bisa terjadi’.”

“Bagaimana bisa Anda bisa menguasai bola secara permanen hingga lawan terus mengejarnya di sepanjang pertandingan?”

“Semua kejadian yang saya rasakan selama hidup, sepanjang karier saya kemudian mulai terasa masuk akal.”

“Saya mulai benar-benar menonton sepakbola. Melakukan analisis. Memahami apa yang saya rasakan dan inginkan untuk diterjemahkan ke sesi latihan saat menjadi pelatih.”

Dan sekarang takdir telah menghampiri Setien, dia mendapat tantangan untuk melatih klub dengan gaya bermain impiannya.

Sumber: Goal Indonesia

Follow dan Like sosmed kita dong

Tinggalkan Balasan